Rabu, 25 Juni 2014

African Oil Palm (Elaeis guineensis)
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit (kernel, yang sebetul]]nya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

Syarat hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.

Tipe kelapa sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama yang terluas dibudidayakan orang. dari kedua species kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing. E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi dan E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan gampang dipanen. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.
Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari
  • Dura,
  • Pisifera, dan
  • Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.
Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

Hasil tanaman

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.[1]
Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

Sejarah perkebunan kelapa sawit

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.[2]
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

Hama dan penyakit

Faktor yang dapat menyebabkan penurunan hasil produksi pada tanaman kelapa sawit diantaranya hama dan penyakit. Serangan hama utama ulat pemakan daun kelapa sawit, yakni ulat api (Lepidoptera: Limacodidae) dan ulat kantung (Lepidoptera: Psychidae). [3] Potensi kehilangan hasil yang disebabkan kedua hama ini dapat mencapai 35%. [4] Jenis ulat api yang paling banyak ditemukan di lapangan adalah Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima, Darna diducta dan Darna bradleyi. [5] Selain hama, penyakit juga menimbulkan masalah pada pertanaman kelapa sawit. Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh infeksi cendawan Ganoderma boninense merupakan penyakit penting yang menyerang kebun-kebun kelapa sawit. Cendawan G. boninense merupakan patogen tular tanah yang merupakan parasitik fakultatif dengan kisaran inang yang luas dan mempunyai kemampuan saprofitik yang tinggi. [6]

Manfaat minyak sawit

Selain manfaat utama minyak sawit sebagai minyak makan, minyak sawit juga dapat digunakan sebagai pengganti lemak susu dalam pembuatan susu kental manis dan tepung susu skim [7]

Teknologi Peningkatan Fruit Set dengan introduksi serangga penyerbuk



Produksi kelapa sawit ditentukan antara lain oleh sukses tidaknya penyerbukan. Penyerbukan pada tanaman kelapa sawit memerlukan agen, karena meskipun kelapa sawit berumah satu (monocious) namun bunga‑bunga pada bulir (spikelet) jantan dan betina mekar pada waktu yang berlainan sehingga selalu terjadi penyerbukan antar tumbuhan atau penyerbukan silang (Lubis, 1992). Pada penyerbukan silang dengan agen serangga, metabolit sekunder tumbuhan dalam bentuk senyawa volatil memegang peranan pada komunikasi antara serangga dengan tumbuhan, misalnya dengan mengenali bau tertentu maka serangga bisa memastikan keberadaan tanaman yang diinginkan (Pineda, 2004; Real, 1983).
Serangga penyerbuk kelapa sawit yang sudah lama ada di Indonesia antara lain Thrips hawaiensis (Waterhouse dan Norris, 1987). Serangga sangat kecil ini masih dianggap kurang aktif karena tidak secara sempurna dapat menyerbuki seluruh bunga betina sampai kepangkal tandan yang terjepit pelepah dan lapisan bunga yang berada di bagian dalam. Oleh karena itu muncul ide ’penyerbukan’ buatan yang dilakukan oleh manusia yang disebut assisted pollination, walaupun kemudian dirasakan kurang efektif dan tidak ekonomis.
Salah satu hasil spektakuler dari penelitian di bidang perkebunan kelapa sawit adalah pemanfaatan serangga penyerbuk kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus) (Syed, 1980). Sejak diintroduksikan tahun 1982 dari Afrika Barat, E. kamerunicus telah menggantikan penyerbukan buatan oleh manusia yang membutuhkan biaya sangat besar dan tidak efektif dan efisien (Eardley et al., 2006). Hampir semua perkebunan kelapa sawit di Sumatera, Jawa dan Kalimantan telah dihuni oleh kumbang E. kamerunicus yang dilepas secara langsung maupun datang dengan sendirinya (Sipayung dan Lubis, 1987). Akibat introduksi SPKS E. kamerunicus, terjadi banyak kenaikan komponen-komponen produksi kecuali jumlah tandan dan rendemen minyak yakni meningkatkan berat tandan, nilai fruit set dan CPO/ha dan inti (Donough dan Law, 1987; Lubis, 1987).
Adanya E. kamerunicus sangat signifikan dalam meningkatkan nilai fruit set tandan kelapa sawit. Hal ini disebabkan karena serangga penyerbuk ini mampu menjangkau buah bagian dalam sehingga proses penyerbukan bunga pada tandan sebelah dalam dapat terjadi. Nilai fruit set yang baik pada tanaman kelapa sawit adalah di atas 75% (Susanto et al., 2007), dan untuk dapat mencapai nilai tersebut diperlukan jumlah E. kamerunicus sekitar 20.000 ekor/ha. Namun demikian, keefektifan penyerbukan bunga juga sangat dipengaruhi oleh produksi bunga jantan kelapa sawit. Angka sex ratio (perbandingan jumlah bunga jantan dan bunga betina kelapa sawit) ini penting diketahui untuk perhitungan bunga dalam estimasi produksi, polinasi bantuan, pelepasan serangga penyerbuk dan lain-lain.
Pada saat ini, di Indonesia, praktek assisted pollination tidak dilakukan lagi secara komersil, karena adanya serangga penyerbuk kelapa sawit E. kamerunicus. Namun, akhir-akhir ini beberapa perkebunan kelapa sawit di Indonesia melaporkan penurunan produksi tandan buah bahkan tidak terjadi penyerbukan pada tandan bunga betina. Salah satu faktor yang dicurigai menjadi penyebabnya adalah penurunan populasi E. kamerunicus di lapangan.
Penelitian mengenai biologi kumbang E. kamerunicus masih sangat sedikit. Penelitian yang sangat menyeluruh hanya dilaksanakan antara tahun 1978‑1980 di Kamerun oleh Syed (1982) yang mempelajari perkembangan E kamerunicus dari telur menjadi larva, kemudian kepompong, dan akhimya menjadi imago. Di Indonesia yang memiliki kondisi iklim yang relatif berbeda akhir-akhir ini, bila penelitian ini dilakukan kembali akan menjadi kajian yang sangat menarik untuk memperoleh informasi mengenai bioekologi serangga penyerbuk tersebut.
Di Indonesia, penelitian mengenai E. kamerunicus berlangsung mulai 1983 – 1987. Setelah itu, E. kamerunicus kurang diperhatikan karena keberadaannya dianggap telah baik bagi produktivitas kelapa sawit di lapangan. Akhir-akhir ini, karena banyaknya ditemukan penurunan produksi kelapa sawit di beberapa perkebunan besar, penelitian mengenai E. kamerunicus akan menjadi prioritas penting. Penelitian ini akan banyak mengkaji tentang sistem peningkatan populasi E. kamerunicus di lapangan, biologi, ekologi maupun perilaku serangga tersebut saat ini di lapangan sehingga diharapkan dapat menjadi acuan dalam upaya peningkatan produktivitas kelapa sawit yang optimal. Seperti kata Mayfield (1999), praktek managemen yang baik menjadi peran kunci dalam menyediakan biodiversitas serangga penyerbuk yang menyediakan pelayanan ’gratis’.
Kemungkinan, apabila berbagai penelitian di masa lalu dimunculkan kembali, maka akan menghasilkan berbagai kesimpulan baru terutama keterkaitan E. kamerunicus terhadap berbagai faktor pembatas perkembangan yakni iklim, adanya serangan tikus, penggunaan pestisida maupun penggunaan material tanam kelapa sawit. Menurut Syed dan Saleh (1987), perkembangan populasi kumbang E. kamerunicus dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu: 1. Iklim terutama curah hujan, 2. Predator terutama tikus dan 3. Banyak bunga jantan yang mekar.
Beberapa hasil penelitian di masa lalu adalah sebagai berikut:
  1. Adanya serangan tikus menimbulkan dua dampak negatif yakni kerusakan buah dan mengganggu perkembangbiakan E. kamerunicus. Dari hasil analisa Sipayung et al. (1987),isi lambung tikus sebelum periode E. kamerunicus dijumpai banyak adanya berbagai macam jenis serangga dan binatang kecil. Diantara yang dominan adalah cocopet Chelisoches morris, siput Parmorian pupillaris dan semut angrang Ocophylla smaragdina. Setelah periode SPKS, larva dan kepompong E. kamerunicus menduduki tempat kedua terbesar setelah cocopet. Tikus menyukai larva dan kepompong E. kamerunicus sebagai sumber protein tambahan. Menurut Hutauruk et al. (1985), dengan pertambahan sumber protein ini kemungkinan tikus akan bertambah sehat sehingga mampu hidup lebih lama serta natalitinya akan meningkat.
  2. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilaksanakan di laboratorium dan di lapangan oleh Hutauruk et al. (1985) diketahui bahwa pada umumnya semua jenis insektisida yang sudah biasa digunakan untuk pengendalian ulat api (Limacodidae) dan ulat kantong (Psychidae) melalui penyemprotan atau injeksi batang, beracun terhadap E. kamerunicus. Apabila penyemprotan dilakukan pada mahkota daun, maka pengaruh sampingan insektisida yang digunakan hanya kecil. Satu sampai tiga hari setelah perlakuan, E. kamerunicus sudah kembali pada bunga kelapa sawit. Apabila larutan insektisida disemprotkan langsung pada bunga, maka pengaruhnya sangat besar. E. kamerunicus tidak dijumpai pada 1 – 3 hari setelah penyemprotan. Penelitian ini menggunakan berbagai pestisida yang sekarang telah banyak dilarang. Bagaimana dengan penggunaan jenis pestisida (dengan bahan aktif yang berbeda) yang sekarang, apakah sama? Terlebih lagi kajian penggunaan herbisida di piringan terhadap populasi E. kamerunicus pada TM muda juga menjadi objek yang menarik untuk diteliti.
  3. Di Afrika Barat selain E. kamerunicus ditemukan juga serangga penyerbuk lain, misalnya E. subvittatus, E. plagiatus dan E. singularis serta masih banyak lagi famili serangga lain yang datang ke bunga kelapa sawit (Syed, 1980; Hutauruk dan Syukur, 1985). Keempat Elaeidobius itu keberadaannya sudah stabil dan saling mendukung, meskipun dominasinya berbeda tergantung cuaca, letak geografis dan tingkat kemekaran bunga. E. kamerunicus lebih dominan di daerah dengan curah hujan tinggi (> 3.500 mm/tahun) pada daerah dataran rendah. Di daerah dataran tinggi (> 1.000 m dpl) E. subvittatus merupakan serangga yang dominan dan menandai bahwa spesies ini memiliki daya jelajah yang lebih kuat. Penelitian belum rinci mengenai pengaruh beberapa bulan kering terhadap populasi kumbang E. kamerunicus maupun suhu dan kelembaban udara yang mendukung perkembangan yang baik bagi serangga ini. Ke depan, bila memang memungkinkan, impor serangga penyerbuk yang baru seperti E. subvittatus mungkin menjadi solusi yang sangat penting.
  4. Dewasa ini banyak laporan dari berbagai perkebunan besar, bahwa adanya perbedaan material tanam kelapa sawit mengakibatkan populasi E. kamerunicus yang berbeda juga khususnya pada TM muda. Purba et al. (2008) menyatakan bahwa ada kemungkinan masing-masing material tanam tersebut mengeluarkan kairomon untuk menarik SPKS dalam tingkat yang berbeda. Isolasi dan sintesis senyawa ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya peningkatan populasinya di lapangan.
Upaya meningkatkan populasi SPKS di perkebunan kelapa sawit jelas merupakan keharusan jika produktivitas kelapa sawit masih rendah terkait dengan masih rendahnya densitas SPKS. Lubis dan Sipayung (1987) menyatakan bahwa pada tahun 1987, Indonesia yang saat itu memiliki luas tanaman yang berumur 3 – 6 tahun adalah sekitar 80.000 ha. Peniadaan kegiatan assisted pollination telah dapat menghemat biaya sekitar Rp. 72.000/ha setiap tahun atau Rp. 5,76 Milyar untuk tahun 1987. Jumlah ini dihitung dengan kebutuhan tenaga kerja polinasi yakni sekitar 2.160.000 HK per tahun atau sekitar 7.200 HK per hari. Ini berarti 1 HK hanya dihargai sekitar Rp. 960,-. Nah, bagaimana dengan kondisi sekarang? Jika 1 HK sama dengan Rp. 30.000,- maka dengan luasan 80.000 ha tersebut telah terselamatkan Rp. 180 Milyar

IDENTIFIKASI SERANGGA HAMA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis quineensis Jack) DI LAHAN PERKEBUNAN



Serangga merupakan kelas terbesar dalam Artropoda yang beranggotakan kurang lebih 675.000 spesies. Serangga hama dapat menyerang bagian tanaman secara keseluruhan yang mengakibatkan kematian atau cacat pada tanaman dan akan mengurangi hasil lebih-lebih jika tanaman yang disarang adalah tanaman didaerah perkebunan. Salah satu hasil perkebunan yang sering diserang adalah kelapa sawit yang mana produknya diolah menjadi minyak kelapa sawit. Untuk menanggulangi masalah serangga hama tersebut, maka perlu diadakan identifikasi jenis serangga yang menyerang kelapa sawit untuk membantu para petani mengetahui jenis serangga hama yang menyerang di perkebunan mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Jenis-jenis serangga apa sajakah yang menyerang tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack). Karakteristik populasi serangga hama. Dan hubungan antara jenis serangga tertentu dengan bagian tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack) yang dirusak.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juli - 2 Agustus 2005 di lahan perkebunan masyarakat desa Kayungo Kec. Long Ikis Kab. Pasir. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi semua jenis serangga hama dalam berbagai stadium yang menyerang kelapa sawit. Sedangkan sampel penelitian ini adalah semua jenis serangga hama dari berbagai stadium yang di temukan pada masing-masing stasiun pengamatan. Analisis data dengan teknik sampling insidental, berdasarkan hasil penelitian dilapangan di tiga stasiun yang dibagi menjadi 9 plot.
Hasil Penelitian yang ditemukan terdiri dari 11 spesies antara lain: Rynchophorus ferrugineus, Orycetes rhinoceros, Sexsava sp, Forficula auricularia, Locusta migratoria, Acanthocelides obtectus, Setora nitens, Ceuthophialus maculates, Conocephalus fasciatus, Hyalophora cecropia, Nepytia canosaria. Jumlah individu terbanyak adalah Setora nitens, dan stasiun yang banyak terserang serangga hama pada stasiun III. Kepadatan absolut dan relatif terbesar adalah Setora nitens. Frekunsi absolut dan relatif serta kelimpahan terbesar adalah Sexava, sp. Indeks nilai penting tertinggi adalah Sexava,sp. Adapun bagian-bagian tanaman yang diserang adalah pucuk pohon, pangkal daun, daun muda, akar, batang, tajuk, dan buah.

Deskripsi Alternatif :

Serangga merupakan kelas terbesar dalam Artropoda yang beranggotakan kurang lebih 675.000 spesies. Serangga hama dapat menyerang bagian tanaman secara keseluruhan yang mengakibatkan kematian atau cacat pada tanaman dan akan mengurangi hasil lebih-lebih jika tanaman yang disarang adalah tanaman didaerah perkebunan. Salah satu hasil perkebunan yang sering diserang adalah kelapa sawit yang mana produknya diolah menjadi minyak kelapa sawit. Untuk menanggulangi masalah serangga hama tersebut, maka perlu diadakan identifikasi jenis serangga yang menyerang kelapa sawit untuk membantu para petani mengetahui jenis serangga hama yang menyerang di perkebunan mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Jenis-jenis serangga apa sajakah yang menyerang tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack). Karakteristik populasi serangga hama. Dan hubungan antara jenis serangga tertentu dengan bagian tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack) yang dirusak.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juli - 2 Agustus 2005 di lahan perkebunan masyarakat desa Kayungo Kec. Long Ikis Kab. Pasir. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi semua jenis serangga hama dalam berbagai stadium yang menyerang kelapa sawit. Sedangkan sampel penelitian ini adalah semua jenis serangga hama dari berbagai stadium yang di temukan pada masing-masing stasiun pengamatan. Analisis data dengan teknik sampling insidental, berdasarkan hasil penelitian dilapangan di tiga stasiun yang dibagi menjadi 9 plot.
Hasil Penelitian yang ditemukan terdiri dari 11 spesies antara lain: Rynchophorus ferrugineus, Orycetes rhinoceros, Sexsava sp, Forficula auricularia, Locusta migratoria, Acanthocelides obtectus, Setora nitens, Ceuthophialus maculates, Conocephalus fasciatus, Hyalophora cecropia, Nepytia canosaria. Jumlah individu terbanyak adalah Setora nitens, dan stasiun yang banyak terserang serangga hama pada stasiun III. Kepadatan absolut dan relatif terbesar adalah Setora nitens. Frekunsi absolut dan relatif serta kelimpahan terbesar adalah Sexava, sp. Indeks nilai penting tertinggi adalah Sexava,sp. Adapun bagian-bagian tanaman yang diserang adalah pucuk pohon, pangkal daun, daun muda, akar, batang, tajuk, dan buah.

Minggu, 16 Maret 2014

PELUANG BISNIS WARALABA BIBIT UNGGUL KELAPA SAWIT

PELUANG BISNIS WARALABA BIBIT UNGGUL KELAPA SAWIT

Ada model bisnis yang belum banyak dikenal orang, yaitu bisnis waralaba bibit kelapa sawit. Pasalnya, saat ini waralaba sangat berprospektif di Indonesia. Keuntungannya, berdasarkan kelayakan usaha, pewaralaba telah balik modal dan mendapatkan keuntungan bersih lebih dari 60% dalam jangka waktu satu tahun.Ada tiga jenis waralaba bibit kelapa sawit, yaitu waralaba varietas, waralaba benih, dan waralaba bibit. Bentuk waralaba varietas mengharuskan sumber benih berasal dari hasil program pemuliaan dalam bentuk kecambah induk Dura atau Pisifera. Salah satu kelebihan bentuk waralaba ini adalah keuntungan yang didapatkan berlangsung terus-menerus selama tanaman masih menghasilkan benih.

Sementara itu, bentuk waralaba benih sumber benihnya berasal dari persilangan Dura dan Pisifera yang sudah teruji kualitasnya dan dijual secara luas kepada sewaralaba. Kelebihan bentuk waralaba ini, penerima waralaba dapat memasarkan benih tanpa membangun kebun induk.

Terakhir, waralaba bibit mengharuskan sumber benih untuk menyerahkan kecambah dengan tujuan dibibitkan oleh penerima waralaba mengikuti persyaratannya. Misalnya, memiliki modal, lahan, dan pengalaman di bidang pembibitan kelapa sawit. Bentuk waralaba ini sangat cocok dan mudah dilakukan oleh perorangan dan swasta sebagai penerima waralaba. Kelebihannya, modal dan areal yang digunakan relatif kecil.

Latar belakang munculnya bisnis waralaba kelapa sawit merupakan solusi dari permasalahan bibit yang rendah kualitas. Pasalnya, benih yang berkualitas biasanya hanya tersedia di lokasi sentra pengembangan komoditasnya. Selain itu, banyaknya oknum-oknum yang menjual bibit asal dengan kualitas rendah menjadikan bibit unggul tidak terserap oleh petani.

Melalui waralaba, bibit yang dihasilkan dan diperoleh oleh petani benar-benar berkualitas unggul. Hal ini dikarenakan pemilik varietas memberi izin dan memberikan bimbingan teknis kepada penerima waralaba. Selanjutnya, penerima waralaba akan memberikan keuntungan berupa royalti sehingga peneliti memiliki modal untuk menciptakan varietas unggul. Selain itu, juga adanya sistem pengawasan ketat, seleksi, dan supervisi secara berkala.

Indonesia yang merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, menjadikan waralaba bibit kelapa sawit cukup diminati dan memiliki prospek bisnis yang cerah.

TENERA, BIBIT UNGGUL

TENERA, BIBIT UNGGUL

Hampir sebagian besar tanaman kelapa sawit unggul untuk kepentingan komersial adalah berjenis TENERA. Dimana jenis tersebut dihasilkan dengan menyilangkan DURA dan PSIFERA. Sedangkan jenis sawit yang tidak unggul umumnya berjenis DURA atau PSIFERA.

Mengapa TENERA yang digunakan untuk kepentingan komersil? Karena jenis ini memiliki produksi dan rendeman tinggi, serta pengolahannya tidak merusak mesin. Sebaliknya untuk jenis DURA atau PSIFERA, produktivitas rendah, rendemen 16%, PKO tidak dapat dimanfaatkan karena cangkang tidak dapat dipecahkan dan dapat merusak mesin pabrik.

TENERA yang unggul tersebut hanya dihasilkan oleh sumber benih yang telah memiliki koleksi induk DURA dan PSIFERA terpilih. Sedangkan sawit asalan yang berjenis DURA atau PSIFERA umumnya dikumpulkan langsung dari kebun-kebun produksi

Selasa, 04 Maret 2014

Hama Kelapa Sawit

Hama Kelapa Sawit

Kumbang Tanduk

 Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros (L)) diklasifikasikan ke dalam ordo Coleoptera, famili Scarabidae dan subfamili Dynastinae. Kumbang ini merupakan hama utama yang menyerang kelapa sawit dan sangat merugikan di Indonesia, khususnya di areal replanting yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pada areal replanting, banyak tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan sebagai tempat berkembang biak hama ini.


Gambar. Kumbang tanduk dewasa
Siklus Hidup
Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Musim kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat perkembangan larva serta ukuran dewasa yang lebih kecil dari ukuran normal. Suhu perkembangan larva yang sesuai adalah 27oC-29oC dengan kelembapan relatif 85-95% (Bedford, 1980). Satu siklus hidup hama ini dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan.
Kumbang ini mempunyai telur yang berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk telur biasanya oval kemudian mulai membengkak sekitar satu minggu setelah peletakan dan menetas pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung dalam waktu 82-207 hari. Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerut-kerut, melengkung membentuk setengah lingkaran dengan panjang sekitar 60-100 mm atau lebih (Ooi, 1988). Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir dan menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari. Pupa berwarna cokelat kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan waktu 17-28 hari. Kumbang berwarna cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-50 mm dan lebar 20-23 mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala (Wood, 1968). Jantan memiliki tanduk yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai banyak rambut pada ujung ruas terakhir abdomen dan jantan tidak (Wood, 1968). Umur betina lebih panjang dari umur jantan.
Kerusakan Dan Pengaruhnya Di Lapangan
Kumbang O. rhinoceros menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun. Kumbang ini jarang sekali dijumpai menyerang kelapa sawit yang sudah menghasilkan (TM). Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini sekarang juga dijumpai pada areal TM.
Pada areal replanting kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun, dan tanaman yang mati dapat mencapai 25%. Masalah kumbang tanduk saat ini semakin bertambah dengan adanya aplikasi tandan kosong kelapa sawit pada gawangan maupun pada sistem lubang tanam besar. Aplikasi mulsa tandan kosong sawit (TKS) yang kurang tepat dapat mengakibatkan timbulnya masalah kumbang tanduk di areal kelapa sawit tua.
Kumbang terbang dari tempat persembunyiannya menjelang senja sampai agak malam (sampai dengan jam 21.00 WIB), dan jarang dijumpai pada waktu larut malam. Dari pengalaman diketahui bahwa kumbang banyak menyerang kelapa pada malam sebelum turun hujan.
Makanan kumbang dewasa adalah tajuk tanaman, dengan menggerek melalui pangkal batang sampai pada titik tumbuh. Daun yang telah membuka memperlihatkan bentuk seperti huruf V terbalik atau karakteristik potongan serrate (Sadakhatula dan Ramachandran, 1990). Serangan yang berkali-kali pada tanaman dapat menyebabkan kematian dan menjadi rentan masuknya kumbang Rhyncophorus bilineatus (Coleoptera: Curculionidae) (Sivapragasam et al., 1990), juga bakteri ataupun jamur, sehingga terjadi pembusukan yang berkelanjutan. Dalam keadaan seperti ini tanaman mungkin menjadi mati atau terus hidup dengan gejala pertumbuhan yang tidak normal. Tanaman dapat mengalami gerekan beberapa kali, sehingga walaupun dapat bertahan hidup, pertumbuhannya terhambat dan mengakibatkan saat berproduksi menjadi terlambat.

Ulat Api

Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang paling sering menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Jenis-jenis ulat api yang paling banyak ditemukan adalah Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima, Darna  diducta dan Darna bradleyi. Jenis yang jarang ditemukan adalah Thosea vestusa, Thosea bisura, Susica pallida dan Birthamula chara (Norman dan Basri, 1992). Jenis ulat api yang paling merusak di Indonesia akhir-akhir ini adalah S. asigna, S. nitens dan D. trima. 


Gambar. Ulat api Setothosea asigna
Siklus Hidup
Siklus hidup masing-masing spesies ulat api berbeda. S. asigna mempunyai siklus hidup 106-138 hari (Hartley, 1979). Telur berwarna kuning kehijauan, berbentuk oval, sangat tipis dan transparan. Telur diletakkan berderet 3-4 baris sejajar dengan permukaan daun sebelah bawah, biasanya pada pelepah daun ke 6-17. Satu tumpukan telur berisi sekitar 44 butir dan seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur 300-400 butir. Telur menetes 4-8 hari setelah diletakkan. Ulat berwarna hijau kekuningan dengan bercak-bercak yang khas di bagian punggungnya. Selain itu di bagian punggung juga dijumpai duri-duri yang kokoh. Ulat instar terakhir (instar ke-9) berukuran panjang 36 mm dan lebar 14,5 mm. Stadia ulat ini berlangsung selama 49-50,3 hari. Ulat berkepompong pada permukaan  tanah yang relatif gembur di sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Kepompong diselubungi oleh kokon yang terbuat dari air liur ulat, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap.  Kokon jantan dan betina masing-masing berukuran 16 x 13 mm dan 20 x 16,5 mm. Stadia kepompong berlangsung selama ± 39,7 hari. Serangga dewasa (ngengat) jantan dan betina masing-masing lebar rentangan sayapnya 41 mm dan 51 mm. Sayap depan berwarna coklat tua dengan garis transparan dan bintik-bintik gelap, sedangkan sayap belakang berwarna coklat muda.
Setora nitens memiliki siklus hidup yang lebih pendek dari S. asigna yaitu 42 hari (Hartley, 1979).  Telur hampir sama dengan telur S. asigna hanya saja peletakan telur antara satu sama lain tidak saling tindih. Telur menetas setelah 4-7 hari. Ulat mula-mula berwarna hijau kekuningan kemudian hijau dan biasanya berubah menjadi kemerahan menjelang masa kepompong. Ulat ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur di tengah punggung  yang berwarna biru keunguan. Stadia ulat dan kepompong masing-masing berlangsung sekitar 50 hari dan 17-27 hari. Ngengat mempunyai lebar rentangan sayap sekitar 35 mm. Sayap depan berwarna coklat dengan garis-garis yang berwarna lebih gelap.
Ulat api Darna trima mempunyai siklus hidup sekitar 60 hari (Hartley, 1979). Telur bulat kecil, berukuran sekitar 1,4 mm, berwarna kuning kehijauan dan diletakkan secara individual di permukaan bawah helaian daun kelapa sawit. Seekor ngengat dapat meletakkan telur sebanyak 90-300 butir. Telur menetas dalam waktu 3-4 hari. Ulat yang baru menetas berwarna putih kekuningan kemudian menjadi coklat muda dengan bercak-bercak jingga, dan pada akhir perkembangannya bagian punggung ulat berwarna coklat tua. Stadia ulat berlangsung selama 26-33 hari. Menjelang berkepompong ulat membentuk kokon dari air liurnya dan berkepompong di dalam kokon tersebut. Kokon berwarna coklat tua, berbentuk oval, berukuran sekitar panjang 5 mm dan lebar 3 mm. Lama stadia kepompong sekitar 10-14 hari. Ngengat berwarna coklat gelap dengan lebar rentangan sayap sekitar 18 mm. Sayap depan berwarna coklat gelap, dengan sebuah bintik kuning dan empat garis hitam. Sayap belakang berwarna abu-abu tua.
Kerusakan dan Pengaruhnya di Lapangan
Eksplosi hama ulat api telah dilaporkan pertama pada tahun 1976. Di Malaysia,  antara tahun  1981 dan 1990, terdapat 49 kali eksplosi hama ulat api, sehingga rata-rata 5 kali setahun (Norman dan Basri, 1992). Semua stadia tanaman rentan terhadap serangan ulat api seperti halnya ulat kantong.

Kumbang Malam

Apogonia berwarna hitam polos, panjangnya 1,2 cm, tidak berbulu, merupakan hama umum di pembibitan kelapa sawit. Kumbang memakan daun dari tepi anak-anak daun, menyerang terutama pada jam-jam awal malam hari. Pada siang hari kumbang bersembunyi 1-2 cm di bawah permukaan tanah. Tingkat populasi kritis 15 kumbang per bibit. Pengendaliannya dengan mencari di tanah di dalam atau di luar polibeg bibit, penaburan insektisida granuler sebanyak 4-5 g/bibit/bulan, atau penyemprotan dengan insektisida pada malam hari.


Gambar 1. Kumbang malam 


Babi Hutan

Babi hutan merupakan jenis hama mammalia penting pada perkebunan kelapa sawit. Sebenarnya satwa ini bukanlah merupakan penghuni tetap pada ekosistim perkebunan kelapa sawit. Kerusakan yang ditimbulkannya pada kelapa sawit hanya merupakan efek sekunder dari kehadirannya pada kebun sawit. Mereka adalah salah satu penghuni tetap hutan. Habitatnya meliputi kisaran geografis yang sangat beragam, pada hampir semua ekosistim, mulai dari padang alang-alang, semak belukar, hutan sekunder, hutan payau, hingga hutan pegunungan.
Jenis babi hutan yang umum dijumpai merusak tanaman kelapa sawit adalah Sus scrofa vittatus. Jenis lain adalah Sus barbatus atau babi janggut, tetapi jarang dijumpai (Sipayung, 1992). Kedua spesies tersebut dilaporkan dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. S. s. vittatus mempunyai garis putih di moncongnya, anak-anaknya berwarna coklat bergaris-garis terang, sedangkan S. barbatus berwarna agak muda, kepalanya lebih panjang dan berambut panjang tegak di sekeliling kepalanya. Di Jawa dan Sulawesi dijumpai Sus verrucosus yang berukuran lebih besar dan mempunyai taring panjang di kepalanya dan badannya tidak berbelang (Sudharto dan Desmier de Chenon, 1997).

Gambar 1. Babi hutan
Babi hutan terutama menyerang tanaman kelapa sawit yang masih muda atau yang baru ditanam, karena mereka menyukai umbutnya yang lunak. Timbulnya serangan babi hutan pada tanaman kelapa sawit tidak semata-mata karena populasinya yang tinggi di habitatnya dalam hutan yang berdekatan, tetapi erat hubungannya dengan sifat satwa liar ini yang rakus. Selain memakan umbut mereka juga memakan buah sawit yang sudah membrondol di tanah, dan tandan buah di pohon yang masih terjangkau. Dilaporkan bahwa kematian tanaman muda akibat serangan babi hutan di Aceh diperkirakan 15,8% (Sipayung, 1992). Sebagai gambaran kerusakan tanaman kelapa sawit yang diakibatkan serangan babi hutan di beberapa daerah pengembangan disajikan pada Tabel 1. Selain itu, serangannya juga menyebabkan kerusakan pada perakaran terutama terhadap akar-akar makan (feeding roots) di sekitar piringan pohon, sehingga dapat menghambat penyerapan air dan hara dari tanah dan mendorong timbulnya penyakit akar.

 Ulat Kantung

 Ulat kantong termasuk dalam famili Psychidae. Tujuh spesies yang pernah ditemukan pada tanaman kelapa sawit adalah Metisa plana, Mahasena corbetti, Cremastopsyche pendula, Brachycyttarus griseus, Manatha albipes, Amatissa sp. dan Cryptothelea cardiophaga (Norman et al., 1995). Jenis ulat kantong yang paling merugikan di perkebunan kelapa sawit adalah Metisa plana dan Mahasena corbetti.

Gambar. Ulat kantong Metisa plana
Siklus Hidup dan biologinya
Ciri khas ulat kantong adalah hidupnya di dalam sebuah bangunan mirip kantong yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, di sekitar daerah serangan (Norman et al., 1995). Ciri khas yang lain yakni pada bagian tubuh dewasa betina kebanyakan spesies ulat kantong mereduksi dan tidak mampu untuk terbang. Jantan memiliki sayap dan akan mencari betina karena bau feromon yang dikeluarkan betina untuk menarik serangga jantan.
Stadia ulat M. plana terdiri atas 4-5 instar dan berlangsung sekitar 50 hari. Pada waktu berkepompong, kantong kelihatan halus permukaan luarnya, berukuran panjang sekitar 15 mm dan menggantung seperti kait di permukaan bawah daun. Stadia kepompong berlangsung selama 25 hari.
Ngengat M. plana betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100-300 butir selama hidupnya. Telur menetas dalam waktu 18 hari. Ulat berukuran lebih kecil dibandingkan dengan M. corbetti yakni pada akhir perkembangannya dapat mencapai panjang sekitar 12 mm, dengan panjang kantong 15-17 mm.
Ngengat M. corbetti jantan bersayap normal dengan rentangan sayap sekitar 30 mm dan berwarna coklat tua. Seekor ngengat M. corbetti betina mampu menghasilkan telur antara 2.000-3.000 butir (Syed, 1978). Telur menetas dalam waktu sekitar 16 hari. Ulat yang baru menetas sangat aktif dan bergantungan dengan benang-benang liurnya, sehingga mudah menyebar dengan bantuan angin, terbawa manusia atau binantang. Ulat sangat aktif makan sambil membuat kantong dari potongan daun yang  agak kasar atau kasar. Selanjutnya ulat bergerak dan makan dengan hanya mengeluarkan kepala dan kaki depannya dari dalam kantong. Ulat mula-mula berada pada permukaan atas daun, tetapi setelah kantong semakin besar berpindah menggantung di bagian permukaan bawah daun kelapa sawit. Pada akhir perkembangannya, ulat dapat mencapai panjang 35 mm dengan panjang kantong sekitar 30-50 mm. Stadia ulat berlangsung sekitar 80 hari.  Ulat berkepompong di dalam kantong selama sekitar 30 hari, sehingga total siklus hidupnya adalah sekitar 126 hari.
Pengetahuan tentang siklus hidup secara utuh sangat berguna di dalam managemen pengendalian hama ini. Dengan informasi ini, rantai terlemah dari siklus hidupnya didapat sehingga akan membantu dalam menentukan waktu tindakan pengendalian yang tepat. Informasi siklus hidup juga akan memberikan pemahaman biologi yang lebih baik untuk pengelolaan hama.
Kerusakan dan Pengaruhnya Di Lapangan
Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar. Basri (1993) menunjukkan bahwa kehilangan daun dapat mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan.

Ulat Tandan

Serangga Tirathaba mundella dan T. rufivena dikenal sebagai hama penggerek tandan buah kelapa sawit baik di Indonesia maupun di Malaysia. Pada umumnya hama ini dijumpai terutama pada areal dengan tandan buah dengan fruitset rendah atau terlewat dipanen (Wood & Ng 1974), karena sebagai makanan hama ini. Tirathaba mundella ini biasanya mulai dijumpai di suatu areal kelapa sawit pada saat tanaman sudah mengeluarkan bunga. Pembentukan bunga yang terjadi secara terus-menerus merupakan salah satu faktor pendorong perkembangan populasi hama ini.

Gambar 1. Larva T. mundella pada tandan kelapa sawit
Pada saat istirahat ngengat berbentuk segitiga dan berwarna kehijauan untuk T. mundella atau putih keabuan untuk T. rufivena. Rentangan sayapnya berkisar antara 20-25 mm. Ngengat tersebut aktif pada sore menjelang malam hari (Sudharto 2004).
Biasanya telur diletakkan pada tandan buah betina yang sudah mulai membuka seludangnya, meskipun dapat juga dijiumpai pada semua tingkat umur tandan buah. Telur akan menetas dalam waktu sekitar 4 hari.
Larva biasanya dijumpai pada bunga betina, bunga jantan dan tandan buah. Larva muda berwarna putih kotor, sedangkan larva dewasa berwarna coklat muda sampai coklat tua. Larva tua panjangnya 4 cm dan ditumbuhi dengan rambut-rambut panjang yang jarang. Larva tersebut memakan putik bunga dan daging buah kelapa sawit. Stadia ulat berlangsung selama 16-21 hari atau antara 2-3 minggu yang terdiri dari 5 instar. Menjelang berkepompong larva membentuk kokon dari sisa gerekan dan kotorannya yang direkat dengan benang liur pada tandan buah yang diserang.
Pupa kemudian berubah menjadi imago. Pada sayap depan imago terdapat bercak kecil berwarna hijau, sedangkan pada bagian belakang sayap terdapat bercak berwarna coklat muda kekuningan. Imago betina mempunyai ukuran sayap lebih besar yaitu 24mm, sedangkan imago jantan ukuran sayapnya lebih kecil dari 24mm. Pupa berwarna coklat gelap dan stadia pupa berlangsung sekitar 5-10 hari atau sekitar 1,5 minggu, sedangkan stadia imago berlangsung selama 9-12 hari sehingga total siklus hidupnya adalah lebih kurang 1 bulan (Chan 1973; Hartely 1979; Wood & Ng 1974). Dari semua stadia ini yang merusak adalah stadia ulat atau larvanya.

  



Hama Kelapa Sawit

Hama Kelapa Sawit 

Salah satu permasalahan penting dalam budidaya tanaman, termasuk kelapa sawit, adalah serangan hama yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman hingga berdampak pada penurunan tingkat produksi kelapa sawit. Hama dapat menyerang kelapa sawit sejak tahap pra-pembibitan hingga tahap menghasilkan.
Hama yang umum menyerang pada tahap pembibitan diantaranya:
  • Apogonia expeditionis
  • Exopolis hypoleuca
  • Adoretus compressus
  • Locusta migratoria
  • Valanga nigricornis
  • Tetranychus pier
Hama yang umum menyerang pada tahap tanaman belum menghasilkan diantaranya:

  • Hama yang menyerang batang atau pelepah:
    • Rayap (Coptotermes curvignatus)
    • Kumbang badak (Oryctes rhinoceros)
    • Rhinchophorus spp.
    • Tikus pohon (Rattus rattus tiomanicus)
    • Gajah (Elephas maximus sumatranus)
    • Babi hutan (Sus scrofa vittatus)
    • Landak (Hystrix sp.)
    Hama yang menyerang daun
    • Ulat kantung: Metisa plana, Mahasena corbetti, Cremastopsyche pendula
        • Ulat api: Sethothosea assigna, Setora nitens, Darna trima
        • Ulat bulu: Dasychira inclusa, Amanthusia phidippus, Calliteara horsfielddi
        • Sapi (Bos taurus)

          • Hama yang menyerang pada tahap tanaman menghasilkan diantaranya
          • Ulat tandan (Tirathaba rufivena)
          • Tikus pohon (Rattus-rattus tiomanicus)
          • Bajing kelapa (Callosciurus notatus)
          Hama yang menyerang daun sama seperti pada tahap tanaman belum menghasilkan

          Pengendalian terhadap hama-hama kelapa sawit tersebut harus dilakukan apabila populasinya telah mencapai ambang ekonomi. Untuk mengetahui status populasi hama, perlu dilakukan monitoring serangan hama secara berkala pada titik-titik yang telah ditentukan. Kesalahan dalam monitoring serangan hama dapat berdampak pada peledakan hama di lapangan, dan tindakan pengendalian yang terlambat akan berakibat pada kehilangan hasil yang signifikan.