Rabu, 25 Juni 2014

IDENTIFIKASI SERANGGA HAMA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis quineensis Jack) DI LAHAN PERKEBUNAN



Serangga merupakan kelas terbesar dalam Artropoda yang beranggotakan kurang lebih 675.000 spesies. Serangga hama dapat menyerang bagian tanaman secara keseluruhan yang mengakibatkan kematian atau cacat pada tanaman dan akan mengurangi hasil lebih-lebih jika tanaman yang disarang adalah tanaman didaerah perkebunan. Salah satu hasil perkebunan yang sering diserang adalah kelapa sawit yang mana produknya diolah menjadi minyak kelapa sawit. Untuk menanggulangi masalah serangga hama tersebut, maka perlu diadakan identifikasi jenis serangga yang menyerang kelapa sawit untuk membantu para petani mengetahui jenis serangga hama yang menyerang di perkebunan mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Jenis-jenis serangga apa sajakah yang menyerang tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack). Karakteristik populasi serangga hama. Dan hubungan antara jenis serangga tertentu dengan bagian tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack) yang dirusak.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juli - 2 Agustus 2005 di lahan perkebunan masyarakat desa Kayungo Kec. Long Ikis Kab. Pasir. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi semua jenis serangga hama dalam berbagai stadium yang menyerang kelapa sawit. Sedangkan sampel penelitian ini adalah semua jenis serangga hama dari berbagai stadium yang di temukan pada masing-masing stasiun pengamatan. Analisis data dengan teknik sampling insidental, berdasarkan hasil penelitian dilapangan di tiga stasiun yang dibagi menjadi 9 plot.
Hasil Penelitian yang ditemukan terdiri dari 11 spesies antara lain: Rynchophorus ferrugineus, Orycetes rhinoceros, Sexsava sp, Forficula auricularia, Locusta migratoria, Acanthocelides obtectus, Setora nitens, Ceuthophialus maculates, Conocephalus fasciatus, Hyalophora cecropia, Nepytia canosaria. Jumlah individu terbanyak adalah Setora nitens, dan stasiun yang banyak terserang serangga hama pada stasiun III. Kepadatan absolut dan relatif terbesar adalah Setora nitens. Frekunsi absolut dan relatif serta kelimpahan terbesar adalah Sexava, sp. Indeks nilai penting tertinggi adalah Sexava,sp. Adapun bagian-bagian tanaman yang diserang adalah pucuk pohon, pangkal daun, daun muda, akar, batang, tajuk, dan buah.

Deskripsi Alternatif :

Serangga merupakan kelas terbesar dalam Artropoda yang beranggotakan kurang lebih 675.000 spesies. Serangga hama dapat menyerang bagian tanaman secara keseluruhan yang mengakibatkan kematian atau cacat pada tanaman dan akan mengurangi hasil lebih-lebih jika tanaman yang disarang adalah tanaman didaerah perkebunan. Salah satu hasil perkebunan yang sering diserang adalah kelapa sawit yang mana produknya diolah menjadi minyak kelapa sawit. Untuk menanggulangi masalah serangga hama tersebut, maka perlu diadakan identifikasi jenis serangga yang menyerang kelapa sawit untuk membantu para petani mengetahui jenis serangga hama yang menyerang di perkebunan mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Jenis-jenis serangga apa sajakah yang menyerang tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack). Karakteristik populasi serangga hama. Dan hubungan antara jenis serangga tertentu dengan bagian tanaman kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack) yang dirusak.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juli - 2 Agustus 2005 di lahan perkebunan masyarakat desa Kayungo Kec. Long Ikis Kab. Pasir. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi semua jenis serangga hama dalam berbagai stadium yang menyerang kelapa sawit. Sedangkan sampel penelitian ini adalah semua jenis serangga hama dari berbagai stadium yang di temukan pada masing-masing stasiun pengamatan. Analisis data dengan teknik sampling insidental, berdasarkan hasil penelitian dilapangan di tiga stasiun yang dibagi menjadi 9 plot.
Hasil Penelitian yang ditemukan terdiri dari 11 spesies antara lain: Rynchophorus ferrugineus, Orycetes rhinoceros, Sexsava sp, Forficula auricularia, Locusta migratoria, Acanthocelides obtectus, Setora nitens, Ceuthophialus maculates, Conocephalus fasciatus, Hyalophora cecropia, Nepytia canosaria. Jumlah individu terbanyak adalah Setora nitens, dan stasiun yang banyak terserang serangga hama pada stasiun III. Kepadatan absolut dan relatif terbesar adalah Setora nitens. Frekunsi absolut dan relatif serta kelimpahan terbesar adalah Sexava, sp. Indeks nilai penting tertinggi adalah Sexava,sp. Adapun bagian-bagian tanaman yang diserang adalah pucuk pohon, pangkal daun, daun muda, akar, batang, tajuk, dan buah.

Minggu, 16 Maret 2014

PELUANG BISNIS WARALABA BIBIT UNGGUL KELAPA SAWIT

PELUANG BISNIS WARALABA BIBIT UNGGUL KELAPA SAWIT

Ada model bisnis yang belum banyak dikenal orang, yaitu bisnis waralaba bibit kelapa sawit. Pasalnya, saat ini waralaba sangat berprospektif di Indonesia. Keuntungannya, berdasarkan kelayakan usaha, pewaralaba telah balik modal dan mendapatkan keuntungan bersih lebih dari 60% dalam jangka waktu satu tahun.Ada tiga jenis waralaba bibit kelapa sawit, yaitu waralaba varietas, waralaba benih, dan waralaba bibit. Bentuk waralaba varietas mengharuskan sumber benih berasal dari hasil program pemuliaan dalam bentuk kecambah induk Dura atau Pisifera. Salah satu kelebihan bentuk waralaba ini adalah keuntungan yang didapatkan berlangsung terus-menerus selama tanaman masih menghasilkan benih.

Sementara itu, bentuk waralaba benih sumber benihnya berasal dari persilangan Dura dan Pisifera yang sudah teruji kualitasnya dan dijual secara luas kepada sewaralaba. Kelebihan bentuk waralaba ini, penerima waralaba dapat memasarkan benih tanpa membangun kebun induk.

Terakhir, waralaba bibit mengharuskan sumber benih untuk menyerahkan kecambah dengan tujuan dibibitkan oleh penerima waralaba mengikuti persyaratannya. Misalnya, memiliki modal, lahan, dan pengalaman di bidang pembibitan kelapa sawit. Bentuk waralaba ini sangat cocok dan mudah dilakukan oleh perorangan dan swasta sebagai penerima waralaba. Kelebihannya, modal dan areal yang digunakan relatif kecil.

Latar belakang munculnya bisnis waralaba kelapa sawit merupakan solusi dari permasalahan bibit yang rendah kualitas. Pasalnya, benih yang berkualitas biasanya hanya tersedia di lokasi sentra pengembangan komoditasnya. Selain itu, banyaknya oknum-oknum yang menjual bibit asal dengan kualitas rendah menjadikan bibit unggul tidak terserap oleh petani.

Melalui waralaba, bibit yang dihasilkan dan diperoleh oleh petani benar-benar berkualitas unggul. Hal ini dikarenakan pemilik varietas memberi izin dan memberikan bimbingan teknis kepada penerima waralaba. Selanjutnya, penerima waralaba akan memberikan keuntungan berupa royalti sehingga peneliti memiliki modal untuk menciptakan varietas unggul. Selain itu, juga adanya sistem pengawasan ketat, seleksi, dan supervisi secara berkala.

Indonesia yang merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, menjadikan waralaba bibit kelapa sawit cukup diminati dan memiliki prospek bisnis yang cerah.

TENERA, BIBIT UNGGUL

TENERA, BIBIT UNGGUL

Hampir sebagian besar tanaman kelapa sawit unggul untuk kepentingan komersial adalah berjenis TENERA. Dimana jenis tersebut dihasilkan dengan menyilangkan DURA dan PSIFERA. Sedangkan jenis sawit yang tidak unggul umumnya berjenis DURA atau PSIFERA.

Mengapa TENERA yang digunakan untuk kepentingan komersil? Karena jenis ini memiliki produksi dan rendeman tinggi, serta pengolahannya tidak merusak mesin. Sebaliknya untuk jenis DURA atau PSIFERA, produktivitas rendah, rendemen 16%, PKO tidak dapat dimanfaatkan karena cangkang tidak dapat dipecahkan dan dapat merusak mesin pabrik.

TENERA yang unggul tersebut hanya dihasilkan oleh sumber benih yang telah memiliki koleksi induk DURA dan PSIFERA terpilih. Sedangkan sawit asalan yang berjenis DURA atau PSIFERA umumnya dikumpulkan langsung dari kebun-kebun produksi

Selasa, 04 Maret 2014

Hama Kelapa Sawit

Hama Kelapa Sawit

Kumbang Tanduk

 Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros (L)) diklasifikasikan ke dalam ordo Coleoptera, famili Scarabidae dan subfamili Dynastinae. Kumbang ini merupakan hama utama yang menyerang kelapa sawit dan sangat merugikan di Indonesia, khususnya di areal replanting yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pada areal replanting, banyak tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan sebagai tempat berkembang biak hama ini.


Gambar. Kumbang tanduk dewasa
Siklus Hidup
Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Musim kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat perkembangan larva serta ukuran dewasa yang lebih kecil dari ukuran normal. Suhu perkembangan larva yang sesuai adalah 27oC-29oC dengan kelembapan relatif 85-95% (Bedford, 1980). Satu siklus hidup hama ini dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan.
Kumbang ini mempunyai telur yang berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk telur biasanya oval kemudian mulai membengkak sekitar satu minggu setelah peletakan dan menetas pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung dalam waktu 82-207 hari. Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerut-kerut, melengkung membentuk setengah lingkaran dengan panjang sekitar 60-100 mm atau lebih (Ooi, 1988). Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir dan menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari. Pupa berwarna cokelat kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan waktu 17-28 hari. Kumbang berwarna cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-50 mm dan lebar 20-23 mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala (Wood, 1968). Jantan memiliki tanduk yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai banyak rambut pada ujung ruas terakhir abdomen dan jantan tidak (Wood, 1968). Umur betina lebih panjang dari umur jantan.
Kerusakan Dan Pengaruhnya Di Lapangan
Kumbang O. rhinoceros menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun. Kumbang ini jarang sekali dijumpai menyerang kelapa sawit yang sudah menghasilkan (TM). Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini sekarang juga dijumpai pada areal TM.
Pada areal replanting kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun, dan tanaman yang mati dapat mencapai 25%. Masalah kumbang tanduk saat ini semakin bertambah dengan adanya aplikasi tandan kosong kelapa sawit pada gawangan maupun pada sistem lubang tanam besar. Aplikasi mulsa tandan kosong sawit (TKS) yang kurang tepat dapat mengakibatkan timbulnya masalah kumbang tanduk di areal kelapa sawit tua.
Kumbang terbang dari tempat persembunyiannya menjelang senja sampai agak malam (sampai dengan jam 21.00 WIB), dan jarang dijumpai pada waktu larut malam. Dari pengalaman diketahui bahwa kumbang banyak menyerang kelapa pada malam sebelum turun hujan.
Makanan kumbang dewasa adalah tajuk tanaman, dengan menggerek melalui pangkal batang sampai pada titik tumbuh. Daun yang telah membuka memperlihatkan bentuk seperti huruf V terbalik atau karakteristik potongan serrate (Sadakhatula dan Ramachandran, 1990). Serangan yang berkali-kali pada tanaman dapat menyebabkan kematian dan menjadi rentan masuknya kumbang Rhyncophorus bilineatus (Coleoptera: Curculionidae) (Sivapragasam et al., 1990), juga bakteri ataupun jamur, sehingga terjadi pembusukan yang berkelanjutan. Dalam keadaan seperti ini tanaman mungkin menjadi mati atau terus hidup dengan gejala pertumbuhan yang tidak normal. Tanaman dapat mengalami gerekan beberapa kali, sehingga walaupun dapat bertahan hidup, pertumbuhannya terhambat dan mengakibatkan saat berproduksi menjadi terlambat.

Ulat Api

Ulat api merupakan jenis ulat pemakan daun kelapa sawit yang paling sering menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit. Jenis-jenis ulat api yang paling banyak ditemukan adalah Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima, Darna  diducta dan Darna bradleyi. Jenis yang jarang ditemukan adalah Thosea vestusa, Thosea bisura, Susica pallida dan Birthamula chara (Norman dan Basri, 1992). Jenis ulat api yang paling merusak di Indonesia akhir-akhir ini adalah S. asigna, S. nitens dan D. trima. 


Gambar. Ulat api Setothosea asigna
Siklus Hidup
Siklus hidup masing-masing spesies ulat api berbeda. S. asigna mempunyai siklus hidup 106-138 hari (Hartley, 1979). Telur berwarna kuning kehijauan, berbentuk oval, sangat tipis dan transparan. Telur diletakkan berderet 3-4 baris sejajar dengan permukaan daun sebelah bawah, biasanya pada pelepah daun ke 6-17. Satu tumpukan telur berisi sekitar 44 butir dan seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur 300-400 butir. Telur menetes 4-8 hari setelah diletakkan. Ulat berwarna hijau kekuningan dengan bercak-bercak yang khas di bagian punggungnya. Selain itu di bagian punggung juga dijumpai duri-duri yang kokoh. Ulat instar terakhir (instar ke-9) berukuran panjang 36 mm dan lebar 14,5 mm. Stadia ulat ini berlangsung selama 49-50,3 hari. Ulat berkepompong pada permukaan  tanah yang relatif gembur di sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Kepompong diselubungi oleh kokon yang terbuat dari air liur ulat, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap.  Kokon jantan dan betina masing-masing berukuran 16 x 13 mm dan 20 x 16,5 mm. Stadia kepompong berlangsung selama ± 39,7 hari. Serangga dewasa (ngengat) jantan dan betina masing-masing lebar rentangan sayapnya 41 mm dan 51 mm. Sayap depan berwarna coklat tua dengan garis transparan dan bintik-bintik gelap, sedangkan sayap belakang berwarna coklat muda.
Setora nitens memiliki siklus hidup yang lebih pendek dari S. asigna yaitu 42 hari (Hartley, 1979).  Telur hampir sama dengan telur S. asigna hanya saja peletakan telur antara satu sama lain tidak saling tindih. Telur menetas setelah 4-7 hari. Ulat mula-mula berwarna hijau kekuningan kemudian hijau dan biasanya berubah menjadi kemerahan menjelang masa kepompong. Ulat ini dicirikan dengan adanya satu garis membujur di tengah punggung  yang berwarna biru keunguan. Stadia ulat dan kepompong masing-masing berlangsung sekitar 50 hari dan 17-27 hari. Ngengat mempunyai lebar rentangan sayap sekitar 35 mm. Sayap depan berwarna coklat dengan garis-garis yang berwarna lebih gelap.
Ulat api Darna trima mempunyai siklus hidup sekitar 60 hari (Hartley, 1979). Telur bulat kecil, berukuran sekitar 1,4 mm, berwarna kuning kehijauan dan diletakkan secara individual di permukaan bawah helaian daun kelapa sawit. Seekor ngengat dapat meletakkan telur sebanyak 90-300 butir. Telur menetas dalam waktu 3-4 hari. Ulat yang baru menetas berwarna putih kekuningan kemudian menjadi coklat muda dengan bercak-bercak jingga, dan pada akhir perkembangannya bagian punggung ulat berwarna coklat tua. Stadia ulat berlangsung selama 26-33 hari. Menjelang berkepompong ulat membentuk kokon dari air liurnya dan berkepompong di dalam kokon tersebut. Kokon berwarna coklat tua, berbentuk oval, berukuran sekitar panjang 5 mm dan lebar 3 mm. Lama stadia kepompong sekitar 10-14 hari. Ngengat berwarna coklat gelap dengan lebar rentangan sayap sekitar 18 mm. Sayap depan berwarna coklat gelap, dengan sebuah bintik kuning dan empat garis hitam. Sayap belakang berwarna abu-abu tua.
Kerusakan dan Pengaruhnya di Lapangan
Eksplosi hama ulat api telah dilaporkan pertama pada tahun 1976. Di Malaysia,  antara tahun  1981 dan 1990, terdapat 49 kali eksplosi hama ulat api, sehingga rata-rata 5 kali setahun (Norman dan Basri, 1992). Semua stadia tanaman rentan terhadap serangan ulat api seperti halnya ulat kantong.

Kumbang Malam

Apogonia berwarna hitam polos, panjangnya 1,2 cm, tidak berbulu, merupakan hama umum di pembibitan kelapa sawit. Kumbang memakan daun dari tepi anak-anak daun, menyerang terutama pada jam-jam awal malam hari. Pada siang hari kumbang bersembunyi 1-2 cm di bawah permukaan tanah. Tingkat populasi kritis 15 kumbang per bibit. Pengendaliannya dengan mencari di tanah di dalam atau di luar polibeg bibit, penaburan insektisida granuler sebanyak 4-5 g/bibit/bulan, atau penyemprotan dengan insektisida pada malam hari.


Gambar 1. Kumbang malam 


Babi Hutan

Babi hutan merupakan jenis hama mammalia penting pada perkebunan kelapa sawit. Sebenarnya satwa ini bukanlah merupakan penghuni tetap pada ekosistim perkebunan kelapa sawit. Kerusakan yang ditimbulkannya pada kelapa sawit hanya merupakan efek sekunder dari kehadirannya pada kebun sawit. Mereka adalah salah satu penghuni tetap hutan. Habitatnya meliputi kisaran geografis yang sangat beragam, pada hampir semua ekosistim, mulai dari padang alang-alang, semak belukar, hutan sekunder, hutan payau, hingga hutan pegunungan.
Jenis babi hutan yang umum dijumpai merusak tanaman kelapa sawit adalah Sus scrofa vittatus. Jenis lain adalah Sus barbatus atau babi janggut, tetapi jarang dijumpai (Sipayung, 1992). Kedua spesies tersebut dilaporkan dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. S. s. vittatus mempunyai garis putih di moncongnya, anak-anaknya berwarna coklat bergaris-garis terang, sedangkan S. barbatus berwarna agak muda, kepalanya lebih panjang dan berambut panjang tegak di sekeliling kepalanya. Di Jawa dan Sulawesi dijumpai Sus verrucosus yang berukuran lebih besar dan mempunyai taring panjang di kepalanya dan badannya tidak berbelang (Sudharto dan Desmier de Chenon, 1997).

Gambar 1. Babi hutan
Babi hutan terutama menyerang tanaman kelapa sawit yang masih muda atau yang baru ditanam, karena mereka menyukai umbutnya yang lunak. Timbulnya serangan babi hutan pada tanaman kelapa sawit tidak semata-mata karena populasinya yang tinggi di habitatnya dalam hutan yang berdekatan, tetapi erat hubungannya dengan sifat satwa liar ini yang rakus. Selain memakan umbut mereka juga memakan buah sawit yang sudah membrondol di tanah, dan tandan buah di pohon yang masih terjangkau. Dilaporkan bahwa kematian tanaman muda akibat serangan babi hutan di Aceh diperkirakan 15,8% (Sipayung, 1992). Sebagai gambaran kerusakan tanaman kelapa sawit yang diakibatkan serangan babi hutan di beberapa daerah pengembangan disajikan pada Tabel 1. Selain itu, serangannya juga menyebabkan kerusakan pada perakaran terutama terhadap akar-akar makan (feeding roots) di sekitar piringan pohon, sehingga dapat menghambat penyerapan air dan hara dari tanah dan mendorong timbulnya penyakit akar.

 Ulat Kantung

 Ulat kantong termasuk dalam famili Psychidae. Tujuh spesies yang pernah ditemukan pada tanaman kelapa sawit adalah Metisa plana, Mahasena corbetti, Cremastopsyche pendula, Brachycyttarus griseus, Manatha albipes, Amatissa sp. dan Cryptothelea cardiophaga (Norman et al., 1995). Jenis ulat kantong yang paling merugikan di perkebunan kelapa sawit adalah Metisa plana dan Mahasena corbetti.

Gambar. Ulat kantong Metisa plana
Siklus Hidup dan biologinya
Ciri khas ulat kantong adalah hidupnya di dalam sebuah bangunan mirip kantong yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, di sekitar daerah serangan (Norman et al., 1995). Ciri khas yang lain yakni pada bagian tubuh dewasa betina kebanyakan spesies ulat kantong mereduksi dan tidak mampu untuk terbang. Jantan memiliki sayap dan akan mencari betina karena bau feromon yang dikeluarkan betina untuk menarik serangga jantan.
Stadia ulat M. plana terdiri atas 4-5 instar dan berlangsung sekitar 50 hari. Pada waktu berkepompong, kantong kelihatan halus permukaan luarnya, berukuran panjang sekitar 15 mm dan menggantung seperti kait di permukaan bawah daun. Stadia kepompong berlangsung selama 25 hari.
Ngengat M. plana betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100-300 butir selama hidupnya. Telur menetas dalam waktu 18 hari. Ulat berukuran lebih kecil dibandingkan dengan M. corbetti yakni pada akhir perkembangannya dapat mencapai panjang sekitar 12 mm, dengan panjang kantong 15-17 mm.
Ngengat M. corbetti jantan bersayap normal dengan rentangan sayap sekitar 30 mm dan berwarna coklat tua. Seekor ngengat M. corbetti betina mampu menghasilkan telur antara 2.000-3.000 butir (Syed, 1978). Telur menetas dalam waktu sekitar 16 hari. Ulat yang baru menetas sangat aktif dan bergantungan dengan benang-benang liurnya, sehingga mudah menyebar dengan bantuan angin, terbawa manusia atau binantang. Ulat sangat aktif makan sambil membuat kantong dari potongan daun yang  agak kasar atau kasar. Selanjutnya ulat bergerak dan makan dengan hanya mengeluarkan kepala dan kaki depannya dari dalam kantong. Ulat mula-mula berada pada permukaan atas daun, tetapi setelah kantong semakin besar berpindah menggantung di bagian permukaan bawah daun kelapa sawit. Pada akhir perkembangannya, ulat dapat mencapai panjang 35 mm dengan panjang kantong sekitar 30-50 mm. Stadia ulat berlangsung sekitar 80 hari.  Ulat berkepompong di dalam kantong selama sekitar 30 hari, sehingga total siklus hidupnya adalah sekitar 126 hari.
Pengetahuan tentang siklus hidup secara utuh sangat berguna di dalam managemen pengendalian hama ini. Dengan informasi ini, rantai terlemah dari siklus hidupnya didapat sehingga akan membantu dalam menentukan waktu tindakan pengendalian yang tepat. Informasi siklus hidup juga akan memberikan pemahaman biologi yang lebih baik untuk pengelolaan hama.
Kerusakan dan Pengaruhnya Di Lapangan
Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar. Basri (1993) menunjukkan bahwa kehilangan daun dapat mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan.

Ulat Tandan

Serangga Tirathaba mundella dan T. rufivena dikenal sebagai hama penggerek tandan buah kelapa sawit baik di Indonesia maupun di Malaysia. Pada umumnya hama ini dijumpai terutama pada areal dengan tandan buah dengan fruitset rendah atau terlewat dipanen (Wood & Ng 1974), karena sebagai makanan hama ini. Tirathaba mundella ini biasanya mulai dijumpai di suatu areal kelapa sawit pada saat tanaman sudah mengeluarkan bunga. Pembentukan bunga yang terjadi secara terus-menerus merupakan salah satu faktor pendorong perkembangan populasi hama ini.

Gambar 1. Larva T. mundella pada tandan kelapa sawit
Pada saat istirahat ngengat berbentuk segitiga dan berwarna kehijauan untuk T. mundella atau putih keabuan untuk T. rufivena. Rentangan sayapnya berkisar antara 20-25 mm. Ngengat tersebut aktif pada sore menjelang malam hari (Sudharto 2004).
Biasanya telur diletakkan pada tandan buah betina yang sudah mulai membuka seludangnya, meskipun dapat juga dijiumpai pada semua tingkat umur tandan buah. Telur akan menetas dalam waktu sekitar 4 hari.
Larva biasanya dijumpai pada bunga betina, bunga jantan dan tandan buah. Larva muda berwarna putih kotor, sedangkan larva dewasa berwarna coklat muda sampai coklat tua. Larva tua panjangnya 4 cm dan ditumbuhi dengan rambut-rambut panjang yang jarang. Larva tersebut memakan putik bunga dan daging buah kelapa sawit. Stadia ulat berlangsung selama 16-21 hari atau antara 2-3 minggu yang terdiri dari 5 instar. Menjelang berkepompong larva membentuk kokon dari sisa gerekan dan kotorannya yang direkat dengan benang liur pada tandan buah yang diserang.
Pupa kemudian berubah menjadi imago. Pada sayap depan imago terdapat bercak kecil berwarna hijau, sedangkan pada bagian belakang sayap terdapat bercak berwarna coklat muda kekuningan. Imago betina mempunyai ukuran sayap lebih besar yaitu 24mm, sedangkan imago jantan ukuran sayapnya lebih kecil dari 24mm. Pupa berwarna coklat gelap dan stadia pupa berlangsung sekitar 5-10 hari atau sekitar 1,5 minggu, sedangkan stadia imago berlangsung selama 9-12 hari sehingga total siklus hidupnya adalah lebih kurang 1 bulan (Chan 1973; Hartely 1979; Wood & Ng 1974). Dari semua stadia ini yang merusak adalah stadia ulat atau larvanya.

  



Hama Kelapa Sawit

Hama Kelapa Sawit 

Salah satu permasalahan penting dalam budidaya tanaman, termasuk kelapa sawit, adalah serangan hama yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman hingga berdampak pada penurunan tingkat produksi kelapa sawit. Hama dapat menyerang kelapa sawit sejak tahap pra-pembibitan hingga tahap menghasilkan.
Hama yang umum menyerang pada tahap pembibitan diantaranya:
  • Apogonia expeditionis
  • Exopolis hypoleuca
  • Adoretus compressus
  • Locusta migratoria
  • Valanga nigricornis
  • Tetranychus pier
Hama yang umum menyerang pada tahap tanaman belum menghasilkan diantaranya:

  • Hama yang menyerang batang atau pelepah:
    • Rayap (Coptotermes curvignatus)
    • Kumbang badak (Oryctes rhinoceros)
    • Rhinchophorus spp.
    • Tikus pohon (Rattus rattus tiomanicus)
    • Gajah (Elephas maximus sumatranus)
    • Babi hutan (Sus scrofa vittatus)
    • Landak (Hystrix sp.)
    Hama yang menyerang daun
    • Ulat kantung: Metisa plana, Mahasena corbetti, Cremastopsyche pendula
        • Ulat api: Sethothosea assigna, Setora nitens, Darna trima
        • Ulat bulu: Dasychira inclusa, Amanthusia phidippus, Calliteara horsfielddi
        • Sapi (Bos taurus)

          • Hama yang menyerang pada tahap tanaman menghasilkan diantaranya
          • Ulat tandan (Tirathaba rufivena)
          • Tikus pohon (Rattus-rattus tiomanicus)
          • Bajing kelapa (Callosciurus notatus)
          Hama yang menyerang daun sama seperti pada tahap tanaman belum menghasilkan

          Pengendalian terhadap hama-hama kelapa sawit tersebut harus dilakukan apabila populasinya telah mencapai ambang ekonomi. Untuk mengetahui status populasi hama, perlu dilakukan monitoring serangan hama secara berkala pada titik-titik yang telah ditentukan. Kesalahan dalam monitoring serangan hama dapat berdampak pada peledakan hama di lapangan, dan tindakan pengendalian yang terlambat akan berakibat pada kehilangan hasil yang signifikan.

      Kamis, 20 Februari 2014

      PELATIHAN DI BIDANG PERKEBUNAN KELAPA SAWIT



      Pelatihan

      jum'at, 21 februari 2014 10:35 administrator

      PT ASA TENERA PRIMA  menyediakan berbagai macam pelatihan yang berkaitan dengan hama, penyakit dan gulma serta teknis Budidaya  kelapa sawit.PT ASA TENERA PRIMA juga dapat memberikan berbagai jenis pelatihan di bidang perkebunan meliputi :
      1.Pelatihan teknis Budidaya perkebunan
      2.Pelatihan Best Management Perkebunan
      3.Pelatihan pengendalian hama terpadu
      Pelatihan tersebut dapat dilaksanakan di Perkebunan   Kelapa Sawit  pemilik, atau Anda dapat mengundang kami untuk memberikan pelatihan di tempat/kebun Anda.

      Untuk keterangan lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami Team PT ASA TENERA PRIMA pada nomor telepon: (0761)-7724111 dan A/N Ika Putri Hp: 0852-6538-8038